Review Anime That Time I Got Reincarnated as a Slime. Anime That Time I Got Reincarnated as a Slime baru saja menyelesaikan musim ketiganya pada September 2024 lalu, dengan total 24 episode yang tayang secara kontinu dalam dua cour. Musim ini melanjutkan kisah Rimuru Tempest setelah menjadi Demon Lord sejati, fokus pada konfrontasi dengan Hinata Sakaguchi dari Holy Empire Lubelius dan persiapan festival besar pembukaan negara Tempest. Meski banyak penggemar kecewa dengan pacing yang lambat, musim ini tetap menarik dengan elemen world-building yang kaya dan pengenalan konflik baru. Pengumuman musim keempat yang akan tayang mulai April 2026 dengan format lima cour, plus film kedua, membuat seri ini semakin dinantikan di akhir 2025 ini. BERITA BOLA
Alur Cerita dan Pacing yang Kontroversial: Review Anime That Time I Got Reincarnated as a Slime
Musim ketiga dimulai dengan arc Saint-Monster Confrontation, di mana Rimuru menghadapi Hinata dalam pertarungan yang ditunggu-tunggu sejak musim sebelumnya. Konflik ini cepat terselesaikan dengan resolusi damai setelah terungkap manipulasi dari pihak gereja. Selanjutnya, cerita beralih ke arc festival Tempest, yang mendominasi sebagian besar episode dengan persiapan acara besar, diplomasi antar bangsa, dan banyak adegan rapat. Aksi memang lebih sedikit dibanding musim lalu, digantikan slice-of-life dan politik yang detail. Banyak penonton merasa pacing terlalu lambat, seperti “conference simulator”, tapi ini justru memperdalam implikasi dari kekuatan Rimuru sebagai pemimpin negara monster. Akhir musim meninggalkan setup menarik untuk ancaman baru, membuatnya terasa sebagai transisi penting.
Pengembangan Karakter dan World-Building: Review Anime That Time I Got Reincarnated as a Slime
Rimuru semakin matang sebagai pemimpin, belajar mengelola hubungan diplomatik dan menghindari konflik tidak perlu. Karakter pendukung seperti Diablo mendapat spotlight lebih melalui episode recap dari perspektifnya, sementara Hinata dan anak-anak dari kelas Rimuru di kerajaan manusia menambah kedalaman emosional. Negara Tempest berkembang pesat, dengan pengenalan tamu dari berbagai ras dan konflik internal gereja yang terungkap. Elemen humor tetap kuat, terutama dari interaksi Rimuru dengan bawahannya yang setia. Meski beberapa karakter baru terasa kurang dieksplorasi karena fokus pada persiapan festival, world-building tetap jadi kekuatan utama, membuat dunia fantasi ini terasa hidup dan kompleks.
Kualitas Produksi dan Elemen Teknis
Animasi tetap konsisten tinggi, dengan desain karakter yang menarik dan efek sihir yang memukau di momen aksi. Adegan festival menampilkan visual kota Tempest yang ramai dan indah, didukung musik latar yang pas untuk suasana santai maupun tegang. Voice acting, terutama untuk Rimuru yang androgini, masih excellent dan menambah pesona. Lagu opening dan ending baru juga catchy, meski tidak seikonik musim sebelumnya. Secara teknis, produksi solid tanpa penurunan kualitas, meskipun kurangnya pertarungan besar membuatnya terasa kurang hype dibanding season dua.
Kesimpulan
That Time I Got Reincarnated as a Slime musim ketiga mungkin tidak seintens musim sebelumnya karena pacing lambat dan fokus pada diplomasi, tapi tetap menyajikan world-building mendalam dan pengembangan yang memuaskan bagi penggemar nation-building di genre isekai. Ini cocok dinikmati secara binge-watch untuk menghindari rasa bosan mingguan. Dengan akhir yang setup konflik besar dan pengumuman musim keempat panjang plus film baru, seri ini masih jadi salah satu isekai favorit yang menjanjikan petualangan lebih epik ke depan. Bagi yang suka cerita ringan tapi detail, musim ini layak ditonton sambil menunggu kelanjutannya di 2026.