Nisekoi: Kisah Cinta Palsu Sebelum era Kanojo, Okarishimasu atau Quintessential Quintuplets mendominasi diskusi forum anime, ada satu judul yang pernah memecah belah komunitas penggemar anime global menjadi faksi-faksi yang saling bermusuhan secara fanatik. Judul tersebut adalah Nisekoi (False Love).
Diadaptasi dari manga Shonen Jump karya Naoshi Komi, Nisekoi adalah definisi buku teks dari genre harem komedi romantis era 2010-an. Anime ini memiliki semua resep klise: teman masa kecil, janji yang terlupakan, benda kenangan misterius (liontin), dan protagonis laki-laki yang “tumpul” perasaannya. Namun, di tangan Studio Shaft—studio avant-garde yang terkenal lewat seri Monogatari dan Madoka Magica—resep klise tersebut diracik menjadi tontonan visual yang memukau dan menghibur. Nisekoi bukan sekadar anime romansa; ia adalah fenomena budaya yang mempopulerkan istilah “Perang Waifu” ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Premis: Romeo dan Juliet Versi Yakuza Nisekoi: Kisah Cinta Palsu
Cerita bermula dengan premis yang mengingatkan kita pada kisah klasik Romeo dan Juliet, namun dengan sentuhan komedi gangster. Raku Ichijo adalah pewaris klan Yakuza Shuei-gumi yang hanya ingin hidup normal sebagai siswa SMA. Namun, impiannya hancur ketika ia dipaksa oleh ayahnya untuk berpacaran pura-pura dengan Chitoge Kirisaki, putri dari bos gang Beehive yang baru saja pindah dari Amerika.
Tujuannya satu: mencegah perang antar-geng yang bisa menghancurkan kota. Masalahnya, Raku dan Chitoge saling membenci sejak pertemuan pertama. Raku menyukai teman sekelasnya yang manis, Kosaki Onodera, sementara Chitoge menganggap Raku lemah dan menyedihkan. Dinamika “benci jadi cinta” (enemies to lovers) ini menjadi tulang punggung cerita, dibumbui dengan ketegangan menjaga rahasia hubungan palsu mereka dari teman-teman sekolah dan anggota geng yang curiga.
Sentuhan Magis Studio Shaft Nisekoi: Kisah Cinta Palsu
Hal terbesar yang membedakan Nisekoi dari ratusan anime harem lainnya adalah eksekusi visualnya. Di bawah arahan sutradara Akiyuki Shinbo dan Naoyuki Tatsuwa, Studio Shaft menyuntikkan gaya artistik mereka yang khas ke dalam cerita yang sebenarnya generik.
Latar belakang (background) yang abstrak dan penuh warna, sudut kamera yang tidak lazim, head tilt (kemiringan kepala) yang ikonik, serta penggunaan teks dan simbol visual yang cepat, membuat Nisekoi terasa sangat segar dan energik. Adegan sederhana seperti percakapan di lorong sekolah diubah menjadi panggung teater yang gemerlap. Shaft berhasil mengubah momen komedi slapstick menjadi seni, dan momen romantis menjadi puisi visual yang berkilauan (literalmente, dengan efek kilau dan bunga-bunga khas Shaft).
Medan Perang: Chitoge vs Onodera
Inti dari daya tarik (dan kontroversi) Nisekoi terletak pada karakter-karakter perempuannya. Anime ini menyajikan arketipe karakter yang sangat kuat dan kontras, memaksa penonton untuk memilih kubu. (berita voli)
Di satu sisi ada Chitoge Kirisaki, sang Tsundere klasik. Hubungannya dengan Raku dimulai dari pertengkaran, namun berkembang menjadi kemitraan yang solid. Chitoge mewakili cinta yang tumbuh karena kebersamaan dan penerimaan diri apa adanya. Di sisi lain ada Kosaki Onodera, sang Dandere yang lembut dan feminin. Onodera mewakili cinta ideal yang murni dan manis.
Perdebatan antara “Team Chitoge” dan “Team Onodera” adalah salah satu rivalitas terbesar dalam sejarah anime. Anime ini pandai mempermainkan hati penonton dengan memberikan momen manis yang seimbang kepada kedua belah pihak, membuat hasil akhirnya sulit ditebak (setidaknya sampai manganya tamat). Belum lagi kehadiran karakter pendukung yang tak kalah kuat seperti Seishirou Tsugumi (si tomboi yang setia) dan Marika Tachibana (si agresif yang manipulatif namun rapuh), yang semakin memperkeruh persaingan memperebutkan hati Raku.
Misteri Liontin yang Membingungkan
Jika ada kelemahan fatal dalam narasinya, itu adalah plot tentang liontin dan kunci (“The Locket”). Raku memiliki sebuah liontin terkunci, dan ia berjanji akan menikahi gadis yang memegang kuncinya 10 tahun lalu. Masalahnya, hampir semua gadis di harem-nya ternyata punya kunci!
Misteri ini awalnya menarik, tetapi lama-kelamaan menjadi lelucon yang melelahkan. Plotnya sering kali berputar-putar (stalling); kunci patah, liontin hilang, ingatan yang samar, dan kebetulan-kebetulan yang tidak masuk akal sering digunakan untuk menunda konklusi. Penonton yang mencari misteri detektif yang serius akan kecewa, karena liontin ini hanyalah alat plot (plot device) untuk menjaga status quo harem tetap berjalan.
Raku Ichijo: Simbol Kepadatan Materi
Protagonis kita, Raku Ichijo, sering kali menjadi sasaran frustrasi penonton. Ia adalah tipikal protagonis harem yang “padat” (dense)—tidak peka terhadap perasaan gadis-gadis di sekitarnya meski kode yang diberikan sudah sangat jelas.
Meskipun Raku sebenarnya pria yang baik, perhatian, dan pandai memasak (poin plus yang jarang dimiliki protagonis harem saat itu), ketidaktegasannya dalam memilih sering kali membuat alur cerita terasa jalan di tempat. Namun, harus diakui bahwa Raku memiliki chemistry yang baik dengan setiap heroin, membuat dilemanya setidaknya bisa dimengerti.
KesimpulanNisekoi: Kisah Cinta Palsu
Nisekoi adalah monumen penting dalam sejarah anime rom-com. Ia mungkin bukan cerita dengan penulisan naskah terbaik atau karakterisasi terdalam. Namun, sebagai sebuah hiburan, ia melakukan tugasnya dengan sempurna.
Ia membuat kita tertawa, membuat kita berdebat membela “waifu” pilihan kita, dan memanjakan mata dengan visual Shaft yang cantik. Meskipun animenya tidak mengadaptasi cerita sampai tamat (Anda harus membaca manga untuk mengetahui siapa pemenang akhirnya), Nisekoi tetap layak ditonton sebagai studi kasus tentang bagaimana sebuah “Cinta Palsu” bisa terasa begitu nyata dan menghibur bagi jutaan penggemar di seluruh dunia.